Berhitung Untuk Implementasi BWA 802.16d di Indonesia

Tulisan ini diambil dari posting saya tanggal 26 Mei 2009 di mailing list FKBWI@yahoogroups.com yang merupakan mailing list Forum Komunikasi Broadband Wireless Indonesia.

Pendahuluan

Saya pertama kali mengenal kata WiMAX sekitar tahun 2004 di tahun sama dengan saya mulai terjun di dunia broadband service hingga sekarang. Waktu itu dikatakan WiMAX akan menjadi teknologi yang akan menyediakan akses broadband nirkabel dengan harga yang terjangkau.

Selanjutnya saya sendiri tidak terlalu intens mengikuti perkembangannya yang lambat tapi sempat beberapa kali mengikuti kelas Sharing Vision Bapak Dimitri Mahayana yang membahas bisnis dan teknologi layanan broadband terakhir sekitar pertengahan tahun 2008.

Berdasarkan fakta hasil survei yang disampaikan oleh pak Dimitri, saya mulai melihat informasi yang misleading telah berkembang di masyarakat, dan sebagai praktisi broadband saya yakin akan terjadi gap yang besar antara apa yang dicita-citakan dengan apa yang akan terjadi.

Di stream broadband service dalam conference hari ke-2 WiMAX Indonesia Conference tanggal 23-24 April 2009 di BPPT saya juga sempat mengatakan pendapat, perhitungan bisnis layanan WiMAX atau BWA dengan ketentuan yang akan dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia untuk dapat memberikan layanan internet murah adalah sangat berat.

Pada tanggal 16 Juli 2009 pemerintah dalam hal ini Direktoran Jenderal Pos dan Telekomunikasi menetapkan pemenang hasil lelang frekuensi untuk penyelenggaraan layanan BWA 802.16d kepada calon provider melalui Siaran Pers No. 155/PIH/KOMINFO/7/2009.

Perhitungan

Untuk dapat memberikan internet murah di Indonesia (bukan di Jakarta, ingat konsep Wawasan Nusantara!) maka paling tidak setiap provider harus memiliki minimal 100 ribu pelanggan tetap atau line in service per zona. Untuk mencapai angka ini maka segmen yang harus dimainkan adalah broadband residensial/personal dan bukan broadband corporate/dedicated.

Mengapa harus sebanyak itu? Kita harus menyadari negara kita beda dengan negara sebelah. Jangan samakan dengan Unwired Australia (provider WiMAX) yang hanya melayani kota besar saja. True Thailand (provider ADSL dan hotspot) juga hanya fokus di 3 kota saja. Apalagi dengan Singapore, cukup dengan 200-300 km ring fiber optik saja sudah bisa jadi backbone satu negara sehingga cost operator juga sangat rendah karena density customer yang sangat tinggi.

Sebaliknya di Indonesia, untuk melayani demand, katakanlah 500 ribu subscriber saja harus tergelar backbone ring FO sepanjang puluhan ribu kilometer untuk mengcover area seluas 5 juta km2 (land and sea) yang harus melewati tengah kota, hutan, dan samudera hanya untuk mendeliver trafik dari gateway internasional yang mayoritas landing di Jakarta ke ratusan kota di tanah air. Very very costly, indeed.

Harap dicatat, Australia, Thailand, apalagi Singapore tidak perlu melakukan effort yang sama dengan kita untuk melayani jumlah subscriber yang sama.

ASN, CSN, Gateway

Untuk mendeliver layanan internet ada 3 layer network yang harus dilewati. Yang pertama ASN (access service network) atau last mile, selanjutnya CSN (connectivity service network) mulai dari backhaul BS hingga backbone domestik, dan gateway internasional. Sebenarnya masih ada layer ke-0 yaitu LAN milik pelanggan. WiMAX adalah ASN sebagaimana halnya ADSL dan HSDPA.

Untuk mendeliver layanan broadband, CSN juga harus besar agar dapat menampung trafik pelanggan broadband. Backhaul BTS idealnya harus sebesar kapasitas data rate dari BTS agar transparan membawa trafik ke node CSN tanpa rasio konsentrasi untuk membawa trafik dari BTS ke service gateway/broadband RAS. Jangan meniru operator 3G yang umumnya hanya menyediakan 4E1 (8 Mbps) per BTS karena WiMAX adalah layanan broadband jangan sampai trafiknya tercekik oleh backhaul yang sempit.

Jangan pernah menganggap satu BTS WiMAX dapat mengcover area yang besar. Mungkin bisa di area rural tapi tidak akan jalan di urban yang sepi karena kapasitasnya yang hanya beberapa puluh Mbps tidak akan mampu menghandle user broadband di dalam kota tersebut, di samping tentu saja karena sinyalnya terhalang oleh tembok gedung-gedung tinggi.

Misalkan di Jakarta terdapat 50 BTS (tentu masih akan banyak blank spot), berarti harus ada link backhaul sebanyak jumlah itu. Dijamin costnya tidak murah, apalagi di tempat lain.

Selanjutnya hitung juga koneksi ke provider IP transit yang menyediakan koneksi ke internet global maupun domestik dengan full route BGP 1:1 sampai upstream provider. Untuk layanan broadband residensial/personal, alokasi bandwidth ke gateway internasional kurang lebih 15-20 kbps/jumlah pelanggan. Jadi kalau jumlah pelanggan ada 100 ribu maka operator WiMAX/BWA harus menyewa layanan IP transit global sebesar 1,5-2 Gbps plus IP transit domestik kira-kira sebesar 20% kapasitas link ke internet global.

Problemnya mungkin POP (point of presence) atau lokasi router PE IP transit jumlahnya tidak terlalu banyak. Syukur kalau lokasi service gateway/BRAS dekat dengan POP IP transit. Kalau jaraknya jauh maka biaya koneksi linknya pun membengkak. Dan harus dipastikan juga kapasitas link tidak boleh lebih kecil dari port bandwidth global ditambah dengan bandwidth domestik yang disewa.

Alternatif lain bisa sewa gateway satelit dari luar dan pasang landing point sendiri. Harganya jelas jauh lebih mahal, delay lebih panjang, dan kapasitasnya pun kecil hanya 45 Mbps. Selain itu juga provider masih harus membuat peering domestik dengan local internet exchange.

Sekarang silahkan dihitung berapa banyak pengguna yang dapat dilayani dengan 50 BTS, tentunya untuk standar layanan broadband. Apakah jumlahnya bisa cukup banyak sehingga bisa diperoleh cost per subscriber yang rendah?

Asal jangan ada yang nekad karena ingin murah lantas sebuah BS diberi koneksi multi line Speedy yang di-combine menggunakan perangkat Mikrotik.

Penutup

Jadi perlu dipahami, sesungguhnya komposisi cost terbesar broadband internet untuk perhitungan secara nasional adalah di CSN dan gateway internasional dan bukan di ASN. Tentu angkanya akan berbeda-beda kalau dibreakdown per zona. Cost di zona Jakarta dsk jelas yang paling rendah karena komponen CSN juga paling rendah.

Oleh karena statemen yang menyatakan dengan adanya WiMAX/BWA maka tarif internet di Indonesia akan jadi murah, dengan segala hormat menurut pandangan saya sebagai praktisi broadband service adalah misleading, bahkan jika license frekuensi WiMAX/BWA tidak berbayar dan sudah tersedia modem/CPE yang murah di mana-mana. (Riev)

Advertisements

About this entry