Benarkah Lastmile Adalah Komponen Cost Terbesar Layanan Internet?

Tulisan ini diambil dari posting saya tanggal 14 Oktober 2009 di mailing list FKBWI@yahoogroups.com yang merupakan mailing list Forum Komunikasi Broadband Wireless Indonesia.

Banyak anggapan jaringan akses atau lastmile adalah komponen cost terbesar di dalam jaringan untuk layanan internet. Tetapi benarkah demikian?

Untuk layanan internet broadband yang sudah beroperasi secara nasional di Indonesia, besar komposisi komponen cost lastmile sebenarnya di bawah 50% total cost baik untuk Telkom yang memiliki hampir 9 juta wireline maupun untuk seluler seperti TSEL yang memiliki lebih dari 30.000 BTS.

Lastmile wireline mampu mendeliver kapasitas besar karena tidak ada isu frekuensi sehingga faktor backhaul menjadi sangat penting agar tidak menjadi hambatan untuk lastmile berkapasitas besar tersebut. Sebagai contoh standar node DSLAM ADSL di kota besar saat ini menggunakan uplink metro ethernet 1 Gbps atau setidaknya STM-4 (620 Mbps) yang terhubung ke network metro ethernet regional 10 Gbps untuk dibawa ke gateway internet. Untuk lokasi yang jauh dari gateway, trafik dari metro ethernet regional dibawa dengan backbone IP core (reff).

Untuk area luar kota setidaknya uplink DSLAM menggunakan STM-1 (155 Mbps). Tetapi untuk area tertentu seperti Mentawai, Natuna, Halmahera, Nabire, atau Tual, uplink DSLAM terpaksa menggunakan koneksi satelit dengan kapasitas hanya satu E1 (2 Mbps) bahkan ada yang kurang untuk membawa trafik akses wireline yang besar ke gateway. Mau tidak mau di level backbone ini kecepatan sudah terpangkas habis.

Selanjutnya di gateway dilakukan pembatasan kapasitas akses ke internasional sesuai kelas layanannya. Untuk internet broadband konsumer/rumahan seperti Speedy tentu berbeda dengan internet corporate. Makanya 1 Mbps Speedy tarifnya Rp 645.000 sedangkan 1 Mbps internet corporate harganya bisa di atas Rp 10 juta.

Rata-rata trafik broadband konsumer sangat kecil dibandingkan trafik broadband corporate, akan tetapi secara total jumlah trafik broadband konsumer lebih besar daripada broadband corporate karena jumlah pelanggannya jauh lebih banyak (ordenya jutaan pelanggan vs ribuan pelanggan).

Jadi kalau memang berniat bermain di segmen konsumer, provider juga harus menyediakan link backhaul yang besar untuk koneksi BTS ke edge router/service node (paling tidak sedikit di bawah kapasitas BTS), backbone domestik yang sangat memadai untuk membawa trafik ke landing point gateway, dan kapasitas gateway internasional yang mencukupi.

Artinya, akses besar membutuhkan transport yang besar pula. Dan jangan lupa juga, luas negara kita yang harus dicover oleh backbone domestik adalah darat dan laut seluas 5 juta km2 dengan sebaran demand yang
tidak menguntungkan bagi operator.

Perlu dipertimbangkan kapasitas per BTS BWA 802.16d dengan lebar bandwidth 15 MHz efektifnya hanya mampu memberikan kapasitas total sekitar 40 Mbps saja. Artinya kapasitas itu sangat kurang kalau niatnya ingin menggarap segmen konsumer. Oleh karena itulah akses BWA 802.16d sebaiknya diposisikan sebagai solusi untuk layanan internet maupun komunikasi data/IP VPN untuk segmen corporate.

Ini sesuai dengan pernyataan Angel Dobardziev, practice leader dari Ovum yang menyatakan bahwa Wimax diprediksi tidak akan menguasai pasar tetapi hanya akan mengisi ceruk-ceruk kecil saja. (Riev)

Advertisements

About this entry